Langgam Bali yang Mendunia !!

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA
Museum Nyoman Gunarsa, Klungkung, Bali, menjadi tuan rumah penyelenggaraan Festival Internasional Lukisan Klasik Bali Perdana, yang berlangsung mulai Sabtu (28/7) sampai 28 Oktober mendatang. Festival ini diisi pameran lukisan klasik Bali, baik berasal dari koleksi museum, koleksi pribadi, maupun dari karya-karya seniman generasi muda.

Dua lelaki, yang berbusana raja, berhadap-hadapan dan sama-sama akan menyerang. Mereka dilukiskan memegang senjata pemukul berbentuk gada yang ujungnya memancarkan bola api. Di tengah-tengah mereka terdapat seekor gajah dan seekor kura-kura yang saling menggigit. Kedua binatang, yang tengah berkelahi, itu merupakan penjelmaan dari kedua lelaki yang berhadap-hadapan tersebut.

Lukisan pertempuran berjudul Prabu Bawasu Perang Tanding dengan Sang Supratika jelas digambarkan dengan gaya lukis klasik Bali. Pelukisnya adalah Wijnand Otto Jan Nieuwenkamp (1874-1950).

WOJ Nieuwenkamp adalah seorang ilustrator, seniman grafis, pelukis, kolektor, dan penulis serta penjelajah asal Amsterdam, Belanda. Dia kerap mengunjungi wilayah Asia, termasuk Bali. WOJ Nieuwenkamp berada di Bali ketika berlangsung ekspedisi militer Belanda di Bali tahun 1906 dan menyaksikan perang Puputan Klungkung tahun 1908.

Lukisan klasik Bali karya Nieuwenkamp itu berada di Museum Nyoman Gunarsa, Klungkung, Bali, dan turut dipamerkan dalam Festival Internasional Lukisan Klasik Bali Perdana, yang digelar di museum milik maestro asal Bali, Nyoman Gunarsa.

Sekitar seratus lukisan klasik Bali dihadirkan dalam pameran seni lukis klasik Bali, yang berlangsung mulai Sabtu (28/7) sampai 28 Oktober mendatang. Pameran lukisan klasik itu memajang koleksi Museum Nyoman Gunarsa (Klungkung), Museum Neka dan ARMA Museum serta Museum Puri Lukisan (Ubud, Gianyar), dan Museum Bali (Denpasar) serta Museum Pasifika (Nusa Dua, Badung).

Selain itu, juga menghadirkan koleksi dari Galeri Nasional Indonesia (Jakarta) dan Museum Sono Budoyo (Yogyakarta) serta koleksi ataupun reproduksi resmi dari beberapa museum luar negeri, di antaranya dari Museum Australia dan Museum Volkenkunde Leiden (Belanda).

Menariknya, festival seni lukis klasik Bali di Museum Nyoman Gunarsa itu juga memberikan tempat bagi seniman muda dari daerah Kamasan untuk menampilkan karya-karya mereka. Kamasan adalah sebuah desa di Klungkung yang disebut-sebut menjadi pusat seni lukis klasik di Bali.

Adapun lukisan karya WOJ Nieuwenkamp itu menjadi bukti adanya pengaruh corak Bali pada karya seniman dari luar Bali. Lukisan karya Nieuwenkamp sama temanya dengan lukisan klasik Bali karya Putu Hema (koleksi Museum Volkenkunde, Leiden), bahkan penokohannya pun sama, yakni Prabu Bawasu dan Sang Supratika serta gajah dan kura-kura. Yang membedakan kedua lukisan itu adalah gambar latarnya, media lukisnya, dan masa pembuatannya.

Seperti diungkapkan pengamat seni Jean Couteau saat pembukaan Festival Internasional Lukisan Klasik Bali Perdana di Museum Nyoman Gunarsa, Klungkung, Sabtu (28/7), kesenian Bali tidak hanya mendapat pengaruh dari Eropa, tetapi sebaliknya, Bali juga memberi pengaruh terhadap karya-karya seniman dari Eropa.

Warisan budaya dan sejarah

Seni gambar klasik Bali sudah berkembang sejak berabad-abad lampau. Sebuah tinggalan arkeologi di Bedulu, yang diperkirakan dibuat tahun 968 Masehi, menunjukkan pahatan bergambar padmasana.

Seni lukis klasik dan kesenian Bali lainnya berkembang pesat dan disebut-sebut memasuki zaman keemasannya pada abad XV ketika kepemimpinan Raja Dalem Waturenggong, yang pusat kerajaannya berada di Semarapura atau Klungkung.

Seni lukis klasik Bali tidak hanya berkembang di Klungkung, tetapi juga menyebar ke wilayah lain, di antaranya Denpasar, Badung, Tabanan, Bangli, Singaraja, dan Gianyar.

Ketika Bali dikunjungi pedagang China dan Eropa, lukisan klasik Bali menjadi komoditas seni yang dicari untuk dibeli dan dikoleksi. Lukisan klasik Bali itu dinilai unik dan bernilai seni serta mengandung filsafat kehidupan, etika, dan pengetahuan.

Kedatangan saudagar China ke Bali juga didokumentasikan seniman setempat ke dalam sebuah lukisan bergaya klasik Kamasan yang diperkirakan dibuat sekitar abad XV. Lukisan yang ditemukan di Gelgel, Klungkung, itu adalah koleksi Museum Nyoman Gunarsa.

”Mengamati lukisan klasik Bali seperti membaca cerita,” kata Nyoman Gunarsa dalam perbincangannya dengan Kompas, Sabtu (28/7).

Antropolog Bali, I Wayan Geriya, menyatakan, karya seni lukis klasik Bali dan Nusantara pada umumnya adalah refleksi nilai-nilai filosofis agama Hindu. Seni lukis klasik Bali memancarkan nilai-nilai keluhuran, estetika, etika, spiritualitas, dan narasi karakter bangsa.

Ide lukisan klasik Bali umumnya bersumber dari epos Mahabarata, Ramayana, atau kisah Tantri dan Pararaton. Lukisan klasik Bali gaya Kamasan dapat dilihat secara utuh di Taman Gili Kerta Gosa, Klungkung.

Dalam pameran di Museum Nyoman Gunarsa ditampilkan pula lukisan rerajahan, atau gambar dengan simbol mistis yang diyakini membawa kekuatan gaib atau sebagai penolak bala, seperti lukisan Rerajahan Penolak Bala karya Balian Mangku Arta dari Tembuku, Bangli, Bali.

Terkait dengan festival yang dimotori Nyoman Gunarsa itu, Jean Couteau menyatakan apresiasinya atas usaha Nyoman Gunarsa membawa pulang sejumlah lukisan klasik Bali dari beberapa museum dan kolektor di luar negeri ke asalnya, Bali. Menurut Couteau, pameran lukisan klasik Bali memberi kesempatan untuk mengenali dan mengetahui sisi Bali yang eksotik dan mistis, atau Bali yang diimpikan orang-orang mancanegara. ”Terima kasih Pak Nyoman Gunarsa,” kata Couteau dalam sambutannya pada pembukaan festival.

Festival seni lukis klasik Bali yang dilangsungkan di Museum Nyoman Gunarsa itu semakin memosisikan Bali sebagai pusat seni yang semarak dengan aktivitas berkesenian. Sebelumnya, Bali menjadi tuan rumah penyelenggaraan pameran lukisan bertaraf internasional, yakni Asian Watercolour Expression. Pameran lukisan cat air menampilkan karya-karya perupa dari 11 negara di Asia, digelar di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar, sejak Senin (23/7) sampai Selasa (31/7).

Pameran lukisan cat air di Bali tersebut merupakan penutup dari rangkaian pameran serupa yang diselenggarakan Indonesian Watercolour Society di empat tempat, mulai dari Bentara Budaya Jakarta (4-14 April), di Bentara Budaya Yogyakarta (22-30 Mei), Balai Soedjatmoko Solo (2-9 Juni), hingga Bentara Budaya Bali Gianyar.

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono
Categories: Travelling Indonesia | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: