Dilarang Berisik di Bukchon Village!

KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANALorong-lorong di Bukchon selalu tampak damai dan bersih sepanjang hari.

 

Putu Fajar Arcana

Di beberapa pintu rumah dan sudut gang Bukchon Hanok Village terdapat tulisan: ”Please be Quiet and Considerate!” Biasanya kemudian diimbuhi dengan ilustrasi seseorang sedang menutup bibirnya dengan telunjuk. Ini sebuah desa wisata atau ruang rapat?

Begitulah cara orang Korea ”memaksa” para wisatawan takluk pada peraturan yang berlaku di Bukchon Hanok Village, sebuah desa wisata yang terletak di tepian kota Seoul. Dua gadis asal Jepang dengan terbata-bata minta bantuan untuk mengambil gambar mereka yang ingin berpose di sebuah bukit kecil dengan latar rumah-rumah tradisional. Setengah berbisik salah satunya berkata, ”Tolong ambilkan gambar kami,” Kata-katanya hampir tak terdengar.

Kenapa harus berbisik?

”Banyak peringatan di sini,” kata mereka. Ssttt….

Sepanjang menyusuri beberapa lorong di Bukchon Hanok Village, terdapat kelompok-kelompok wisatawan berjalan perlahan siang itu. Beberapa di antara mereka terengah-engah mendaki bukit kecil di puncak musim panas akhir bulan Juli lalu. Korea, kata sahabat kami, seorang agen artis Edmond Kim, sedang berada pada titik terpanas. ”Suhu bisa mencapai 34-35 derajat. Ini panas sekali,” katanya. Ia memilih berteduh di satu gerbang rumah bersama V Federica, teman seperjalanan dari Indonesia. Mungkin mereka sedang mempercakapkan kemungkinan-kemungkinan kerja sama pembuatan film antara Korea dan Indonesia.

Bukchon tak lain merupakan satu desa tradisional, dalam pengertian desa yang secara arsitektural dipelihara sesuai aslinya. Ratusan rumah yang dibangun sejak berabad-abad silam ini tampak ”antik” di saat kota Seoul mengadopsi berbagai teknologi modern. ”Rumah-rumah di sini sudah ada sejak Dinasti Joseon, sebagian besar rumah-rumah para bangsawan,” tutur Kim Im-young, seorang pemandu wisata yang kebetulan sedang memandu puluhan wisatawan. Kim siap membantu siapa pun yang ingin mengetahui seputar Bukchon Hanok Village. Dinasti Joseon yang menjadi cikal-bakal berdirinya negara Korea modern memerintah pada periode Juli 1392-Oktober 1897.

Desa ini dikelilingi oleh monumen-monumen tradisional penting di Korea, seperti Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace, dan Jongmyo Shrine. Nama Bukchon sendiri berarti ”desa utara” karena terletak di bagian utara Streaming Cheonggye dan Jongno, kini diperkirakan telah berusia 600 tahun lebih. Sebagian besar hanok atau rumah-rumah tradisional di Bukchon masih berpenghuni dan sebagian lagi berubah menjadi guest house serta rumah-rumah teh untuk para pengunjung yang membutuhkan petualangan ke masa lalu.

Berlibur

Ini tempat untuk berlibur dan memperoleh hiburan mengapa harus ada peringatan dilarang berisik? Dengan tangkas Kim menjawab, ”Itu karena rumah-rumah di sini tetap dihuni oleh pemiliknya. Ini bukan rumah-rumah tua yang kosong dan karena itu berhantu,” kata Kim setengah berseloroh, tetapi dengan tekanan nada yang serius.

Anda bisa bayangkan bagaimana berwisata menyusuri satu lokasi beramai-ramai, kelihatan meriah, tetapi tanpa suara sama sekali. Bahkan, mantan wartawan yang kini bekerja di satu perusahaan film di Jakarta, Fadjar Budiman, menyebut perjalanan kami seperti film bisu. ”Kelihatan begitu banyak aktivitas, bercanda, tertawa-tawa, tetapi tanpa suara,” katanya. Di akhir Juli 2012 lalu, ia sedang menjalani puasa Ramadhan. Napasnya agak terengah-engah mendaki bukit kecil menuju puncak desa Bukchon. Beberapa kali ia harus diam sejenak untuk kemudian memaksakan diri agar tiba di puncak bukit. Dari sini kita lebih leluasa memandang hamparan desa Bukchon dengan latar belakang gedung-gedung menjulang di pusat kota Seoul.

Melintasi jalan-jalan kecil yang bersih di Bukchon seperti memasuki lorong-lorong masa lalu, tetapi bukan tumpukan puing yang bisu. Kita dengan leluasa menemukan galeri-galeri seni atau restoran dan mobil-mobil terselip di sela-sela rumah. Waktu sepanjang 600 tahun lebih seperti dibeber lewat atap-atap rumah yang unik. Ia didesain mampu melintasi empat musim sekaligus: terutama tidak kepanasan di musim panas dan tidak terlampau kedinginan di musim dingin.

Bukchon yang kita saksikan hari ini tentu saja desa dengan rumah-rumah tradisional yang telah disentuh oleh peradaban modern. Pemerintah Korea Selatan sadar benar bahwa ketradisionalan bukan semata dipelihara karena urusan pelestarian kebudayaan, melainkan lebih-lebih sebagai daya penarik wisatawan.

Bukchon didesain sebagai desa yang bisa menceritakan tentang dirinya sendiri, yang telah berhasil melintasi ratusan tahun untuk tetap berdiri bersanding dengan gedung-gedung pencakar langit yang modern. Ia kelihatan eksotik sebagai seorang gadis berlenggok di atas panggung kehidupan kini yang kian hiruk-pikuk. Dan ssttt… gadis itu sedang lewat! (Dua gadis Jepang secepat kilat menghilang ditelan gang-gang sempit dan berliku di Bukchon Hanok Village).

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
I Made Asdhiana
Categories: Travelling Tempat eksotik | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: