Membangun Wisata Kapal Pesiar di Nias Yang Sangat Eksotik ..

Kapal pesiar

Kapal pesiar

Foto Selengkapnya:
  • Kapal pesiar

NBC Pulau Nias yang indah sudah saatnya digali dan dikelola untuk dikembangkan sebagai daerah wisata alternatif di Indonesia, setelah Bangka, Bali, Lombok, Bunaken, dan sebagainya. Salah satu potensi besar yang bisa dikembangkan di pulau paling barat Sumatera itu adalah pengembangan wisata bahari, khususnya wisata kapal pesiar.

Seperti kita ketahui, wisata bahari meliputi wisata kapal, seperti kapal pesiar, yacht, perahu layar. Kemudian, wisata olahraga laut, antara lain selancar air (surfing), jetski, ski air, olahraga dayung. Pengadaan lomba voli pantai, sepak bola pantai, juga menjadi salah satu wisata yang bisa dijual. Selain itu, ada juga wisata bawah laut, seperti menyelam (diving), dan juga wisata memancing. Wisata menyelam yang sudah berhasil menarik perhatian dunia adalah Bunaken di Sulawesi Utara.

Faktanya, secara temporer, Kepulauan Nias memang sudah sering dikunjungi kapal pesiar internasional.  Akan tetapi, yang kita harapkan adalah bagaimana wisata ini dikelola dengan sistematis, melibatkan pemangku kepentingan lokal, serta menjadi “pekerjaan bersama”, baik pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pusat, serta para wirausaha sektor pariwisata.

Kapal pesiar adalah kapal penumpang dengan fasilitas lengkap, seperti hotel, sehingga sering juga disebut dengan hotel terapung dan bisa berjalan. Wisatawan mancanegara sering kali menggunakan perjalanan wisata dengan menggunakan kapal pesiar. Wisata kapal pesiar dapat mendistribusikan wisatawan mancanegara secara langsung ke pelosok Kepulauan Nias, sampai ke tempat paling terpencil.

Pengembangan pariwisata bahari di Kepulauan Nias akan memberikan efek berganda, selain dapat menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, mendatangkan devisa bagi negara, juga dapat mendorong konservasi lingkungan.  Jadi, pariwisata bahari dapat menjadi terobosan ekonomi  untuk mengembangkan daerah/pulau-pulau kecil di Kepulauan Nias , yang terpencil yang tidak terjangkau dengan moda angkutan darat dan udara.

Wisata kapal pesiar saat ini sudah berkembang di Phuket, Thailand . Negeri Gajah itu bahkan memiliki pelabuhan khusus kapal pesiar di Phuket. Demikian juga wisata kapal pesiar di Singapura dengan home base kapal pesiar (Grup Seaworld) dan telah punya terminal khusus kapal pesiar. Di Malaysia, wisata kapal pesiar terdapat di Penang dan Port Klang (Grup Genting Berhad) dan telah punya pelabuhan khusus kapal pesiar di Langkawi.

Sementara di Indonesia , sudah ada kapal pesiar trayek domestik yang berpangkalan di Bali dengan trayek Bali dan sekitarnya. Akan tetapi, masih belum ada kapal pangkalan pesiar Indonesia dengan trayek internasional . Fakta lain, di Indonesia juga sudah ada lomba perahu layar Ambon-Darwin secara rutin.

Perizinan

Prosedur masuknya kapal pesiar internasional dan yacht ke Indonesia sudah diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Nomor UM 48/4/13-01 tanggal 9 Maret 2001 tentang pengoperasian kapal pesiar perseorangan. Dalam Butir 3 ayat a: kapal pesiar niaga asing (cruise) sesuai dengan peraturan yang berlaku selama ini dapat beroperasi di Indonesia dengan menunjuk perusahaan pelayaran nasional sebagai general agent-nya. Dalam Butir 3 ayat b : dalam pengoperasian di Indonesia, harus terlebih dahulu mendapatkan kemudahan akses masuk di wilayah Indonesia (clearance approval for Indonesia territory /CAIT) yang meliputi izin perizinan dari Kementerian Luar Negeri, izin keamanan dari Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan izin berlayar dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Hambatan dalam pengembangan wisata kapal pesiar di Indonesia, termasuk di Kepulauan Nias, antara lain, pertama, tarif pelabuhan dan bongkar-muat barang (port handling) di pelabuhan Indonesia lebih mahal dari Thailand, Malaysia, dan Singapura. Kedua, prosedur perizinan kapal pesiar masuk ke Indonesia masih sangat rumit. Ketiga, fasilitas pelabuhan Indonesia untuk kapal pesiar masih belum memuaskan dibanding dengan negara tetangga. Keempat, belum beroperasi kapal pesiar trayek internasional yang berpangkalan di Indonesia.

Ada beberapa kelebihan dari wisata kapal pesiar di Kepulauan Nias antara lain, pertama, kepulauan Nias dekat dengan jalur kapal pesiar regional yang berpangkalan di Singapura, Malaysia dan Thailand . Kedua, kepulauan Nias dilewati jalur kapal pesiar internasional jarak jauh (long haul destination) dari Eropa, Mediterania, dan Carribean. Ketiga, Kepulauan Nias mempunyai banyak pulau eksotik untuk disinggahi seperti Pulau Nias, Pulau Bawa, Pulau-pulau Batu (Pini, Telo, Tanahmasa, Tanahbala, Sigata). Keempat, di sekitar Kepulauan Nias banyak terdapat pelabuhan besar lengkap dengan fasilitas dan dekat ke obyek wisata “one day tour”, seperti Telukdalam, Gunungsitoli, dan Sibolga.

Membangun infrastruktur

Melihat hambatan dan berbagai kelebihan tersebut, untuk mengembangkan wisata kapal pesiar di Kepulauan Nias perlu dibangun infrastruktur pendukung wisata bahari di kepulauan Nias, antara lain, pertama, agar dibangun fasilitas CIQP (beacukai, imigrasi, karantina, otoritas pelabuhan) untuk melayani kapal pesiar yang singgah tanpa sandar di daerah pulau–pulau eksotik dari Kepulauan Nias.

Kedua, agar dibangun terminal penumpang kapal pesiar yang layak dengan fasilitas CIQP, 3. Pembangunan marina atau pelabuhan khusus untuk yacht (kapal pesiar perseorangan).

Untuk mengembangkan wisata kapal pesiar di Kepulauan Nias yang diusulkan, antara lain, pertama, melakukan promosi wisata bahari di Internasional Cruise Travel Fair. Kedua, melakukan promosi kapal pesiar perseorangan (yacht).

Ketiga, pembuatan kegiatan touring /lomba jet ski, yacht lintas Selat Malaka dan keliling Pulau Sumatera meliputi Singapura, Malaysia, Thailand, dan Sumatera (Indonesia). Keempat, pembuatan lomba kapal layar India-Nias (seperti lomba kapal layar Ambon–Darwin).

Promosi kapal pesiar trayek internasional bertujuan agar kapal pesiar mau singgah di Kepulauan Nias. Usul Jalur wisata bahari di Kepulauan Nias  dari luar masuk ke Gunungsitoli – Telukdalam–Pulau Pulau Batu-batu melanjutkan ke luar (dan sebaliknya).

Kepulauan Nias dapat dikunjungi oleh kapal pesiar dengan memakai, pertama, jalur Lingkar Luar Indonesia : Masuk Indonesia (Singapura)–Rupat–Belawan–Sabang–Banyak–Nias –Mentawai –Enggano–Krakatau–Pelabuhan Ratu–Pangandaran–Cilacap–Sendang Biru–Bali–Lombok–Komodo–Rote-Kupang -Wetar– Keluar Indonesia (Darwin). Jalur lain, jalur internasional jarak jauh (long haul) dari Eropa cruise , Mediteranian Cruise, dan Caribean Cruise.

Bila kegiatan dan program di atas dapat dilaksanakan, diharapkan akan terjadi peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Kepulauan Nias secara langsung , dengan menggunakan kapal pesiar dan yacht . Pemerintah Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Barat, Nias Utara, Kota Gunungsitoli harus saling bekerja sama dan dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah pusat.  [RAYA TIMBUL MANURUNG, Konsultan Investasi tinggal di Medan]

Categories: Travelling Tempat eksotik | Tinggalkan komentar

Museum Adityawarman ‘Berdandan’ dengan Studio 3 Dimensi!!

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Warga mengunjungi Museum Adityawarman, Jalan Diponegoro, Minggu (5/6/2011). Museum yang bergaya arsitektur rumah gadang ini, menampilkan koleksi pernik adat minangkabau.

PADANG, KOMPAS.com – Pengelola Museum Adityawarman Padang menargetkan 100 ribu pengunjung sepanjang tahun 2012. Untuk mewujudkan hal itu, Kepala Museum Adityawarman, Muasri mengatakan, pihak museum melakukan revitalisasi dan menambah beberapa fasilitas baru untuk menambah kenyamanan pengunjung.

Muasri mengatakan, fasilitas terbaru museum saat ini adalah studio tiga dimensi guna memamerkan koleksi yang dimiliki secara audio visual kepada pengunjung. Studio mini tiga dimensi tersebut merupakan yang pertama di Indonesia dan setiap pengunjung akan dapat menyaksikan koleksi yang dimiliki melalui layar yang disediakan serta memperoleh penjelasan yang lebih detil.

Jika selama ini masyarakat yang berkunjung hanya menyaksikan langsung koleksi dan benda-benda serta penjelasan yang sifatnya tertulis, maka pengunjung bisa mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap melalui studio mini tersebut.

Muasri mencontohkan, ketika pengunjung hendak melihat koleksi pakaian adat Minangkabau, di studio tersebut, pengunjung akan memperoleh penjelasan mengenai latar belakang dan sejarah serta gambaran audio visual.

“Dengan demikian pemahaman pengunjung terhadap benda-benda serta koleksi yang dimiliki akan lebih utuh serta lebih mudah dipahami,” katanya di Padang, Kamis (23/8/2012).

Pengunjung juga bisa mengakses internet melalui fasilitas wifi sambil bersantai dengan fasilitas tempat duduk dan ketersediaan arus listrik. Tidak hanya itu, museum juga merencanakan aktraksi budaya untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke museum.

Dengan semakin lengkapnya sarana dan fasilitas penunjang, Muasri berharap jumlah pengunjung akan meningkat dan program gerakan cinta museum bisa berjalan lancar.

Museum Adityawarman juga menggandeng Dinas Pendidikan Kota Padang untuk melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar mau melakukan kunjungan rutin ke museum sebagai salah satu proses pembelajaran. Hingga Juli 2012, pihak museum mencatat jumlah pengunjung mencapai 45.000 orang. Setelah ini, Muasri optimistis jumlah pengunjung mencapai 100 ribu orang.

Sumber :
Editor :
Caroline Damanik
Categories: Travelling rumah adat | Tinggalkan komentar

Ragam Pesona di Ujung Barat Jawa!!

KOMPAS/ADHI KUSUMAPUTRA
Puluhan burung camar terbang melayang di atas perairan Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, saat Sang Surya baru terbit. Burung-burung ini mendekati perahu nelayan, yang berisi ikan, hasil tangkapan dari jejaring di bagang (jermal).

 

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com – Ada pendapat yang menyatakan, pembuatan paket wisata harus mempertimbangkan lama waktu perjalanan dari satu obyek ke obyek wisata lainnya. Apabila waktu tempuh dari satu destinasi wisata ke destinasi lainnya terlalu lama – katakan sampai empat jam – ada kemungkinan wisatawan akan bosan.

Pada kondisi ini, Banten diuntungkan dengan banyaknya pesona obyek wisata yang apabila diatur sedemikian rupa alur penjadwalannya, dapat ditempuh tidak terlalu lama. Sehingga, dalam waktu satu dua jam pun wisatawan dapat berpindah dari satu obyek ke obyek wisata lainnya.

Di Serang, misalnya, ada beragam tempat yang menarik untuk dikunjungi, sebut saja kawasan penghasil kerajinan gerabah di Bumi Jaya, pembuatan batik Banten di bilangan Bhayangkara Kecamatan Cipocok, Pantai Anyer, dan situs Banten Lama.

Kabupaten Pandeglang pun diberkahi sebaran pantainya yang eksotik, seperti Carita, Tanjung Lesung, dan Pulau Umang. Di Pandeglang ini pula terdapat Taman Nasional Ujung Kulon yang merupakan wilayah konservasi alam tempat habitat badak bercula satu, spesies yang hampir punah.

Selain wisata alam, Banten pun kaya dengan seni tradisi yang elok dipandang. Seni dimaksud, antara lain, terbang gede, rampak bedug, dan beragam tarian yang menarik hati. Menimbang hal ini, Banten jelas berpotensi di bidang pariwisata.

Dalam perjalanan uji coba paket wisata di Banten beberapa waktu lalu, Ketua ASITA Banten Ng Bana Sembiring sempat mengingatkan pentingnya memperhatikan jenis kendaraan yang digunakan mengangkut wisatawan dengan lebar sempitnya jalan menuju suatu kawasan.

Ini penting karena apabila bus yang digunakan terlalu tambun, maka kendaraan tersebut akan kesulitan apabila harus berbelok atau melintas di ruas jalan yang sempit. Ujung-ujungnya, akan ada waktu yang terbuang dan bisa mengurangi kenyamanan turis dalam bepergian.

Editor :
mbonk
Categories: Travelling Indonesia | Tinggalkan komentar

Trip Super Irit ke Penang!!

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Satu sisi pemandangan Kota Penang, Pantai Barat Semenanjung Malaysia di Selat Malaka. Negara bagian terkecil kedua malaysia ini berpenduduk sekitar 1.518.000 jiwa dan terbilang maju dalam sektor industri dan pariwisata.

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Interior tempat ibadah di rumah tradisional milik warga China peranakan di Penang, Rabu (28/10). Sejumlah rumah tua milik warga direstorasi oleh pemerintah setempat lalu dijadikan tempat wisata.

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Pedagang ais tingkap (semacam es campur) salah satu minuman tradisional yang dijual di Lebuh Tamil, Penang, Malaysia, Rabu (28/10).

HANDOUT
nterior kamar Tune Hotels.com di pusat kota Penang, malaysia yang menawarkan pengalaman menginap di hotel bintang lima tapi dengan harga bintang satu.
Foto:

 

TERKAIT:

Foto lengkap di: KOMPAS IMAGES

MAU trip ke luar negeri dengan nyaman dan murah? penyedia layanan yaitu Tune Hotels.com yang didirikan oleh Tony Fernandes dari AirAsia menawarkan pengalaman menginap seperti di hotel bintang lima tapi dengan harga bintang satu, yaitu cukup merogoh kocek mulai Rp 42 ribu per malam.

Ini merupakan tawaran untuk siapa saja yang mau berwisata ke Penang, Malaysia yaitu kota kuliner terbesar dan kota yang biasa dikunjungi warga Indonesia untuk berobat.

Harga tersebut berlaku selama promosi yaitu antara  1 November hingga 31 Desember 2009 khusus di Tune Hotels.com di pusat kota Penang. Namun di luar waktu tersebut, hotel juga menawarkan harga yang tetap murah mulai dari 35 ringgit Malaysia atau kira-kira setara Rp 90 ribu per malam.

Saat Kompas.com diberi kesempatan bermalam di hotel tersebut, desain interior yang modern dan fasilitas kamar yang nyaman, sangat mencengangkan karena semua itu cukup kita nikmati hanya dengan membayarnya murah.

“Dalam banyak kasus, wisatawan menghabiskan banyak waktu di luar hotel, tentu tidak masuk akal kalau mereka harus membayar ekstra mahal untuk hotel hanya sekadar tidur,” ujar Mark Lankester, Chief Executive Officer Tune Hotels.com.

Satu paket dengan penerbangan AirAsia yang berbiaya rendah, trip ke Penang terasa bertambah irit. Tiba di hotel kita bisa istirahat atau langsung memilih berkeliling George Town, kota dengan bangunan bersejarah yang telah dijadikan warisan budaya dunia oleh Unesco.

Di George Town kita dapat berkeliling dan masuk ke rumah-rumah tua bergaya kolonial dan rumah tradisional China peranakan. Pemerintah sengaja merestorasi secara total bangunan beserta isinya untuk menyedot antusiasme wisatawan khususnya macanegara. Hingga Desember mendatang banyak diselenggarakan atraksi budaya masyarakat di tempat ini.

Selain itu wisatawan juga bisa berpelesir ke kawasan Lebuh Tamil. Di tempat ini terkenal dengan pusat kuliner khas India. Makanan dan minumannya mampu membuat pengunjung betah berlama-lama.

Kenyamanan dan keamanan diciptakan bagi pejalan kaki di kawasan ini. Tidak terlihat pedagang yang tumpah ke trotoar atau jalan. Atau saat menemui perempatan tidak ada polusi dan polisi pengatur lalu lintas.

Wisata religius juga menjadi ikon negeri ini. Kuil, vihara maupun klenteng dibangun dengan aksen yang eksotik. Salah satunya yang terkenal adalah Kuil Kek Lok Si dengan patung Buddha raksasa yang sedang dalam tahap penyelesaian.

Selain itu, warga Indonesia mengenal Penang sebagai tempat berobat. Memang, kota ini terdapat rumah sakit berkelas internasional seperti Gleneagles Medical Centre, Penang Adventist Hospital dan  Island Hospital Penang. Lokasinya asri dan bersahaja, mengantar keluarga berobat tentu harus sekaligus berwisata.

Masih banyak tempat-tempat lengkap dengan berbagai kegiatan yang menarik di Penang. Butuh banyak waktu untuk menikmati semuanya dan yang menggembirakan bisa dilakukan dengan biaya yang relatif irit.

Categories: Travelling Tempat eksotik | Tinggalkan komentar

Langgam Bali yang Mendunia !!

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA
Museum Nyoman Gunarsa, Klungkung, Bali, menjadi tuan rumah penyelenggaraan Festival Internasional Lukisan Klasik Bali Perdana, yang berlangsung mulai Sabtu (28/7) sampai 28 Oktober mendatang. Festival ini diisi pameran lukisan klasik Bali, baik berasal dari koleksi museum, koleksi pribadi, maupun dari karya-karya seniman generasi muda.

Dua lelaki, yang berbusana raja, berhadap-hadapan dan sama-sama akan menyerang. Mereka dilukiskan memegang senjata pemukul berbentuk gada yang ujungnya memancarkan bola api. Di tengah-tengah mereka terdapat seekor gajah dan seekor kura-kura yang saling menggigit. Kedua binatang, yang tengah berkelahi, itu merupakan penjelmaan dari kedua lelaki yang berhadap-hadapan tersebut.

Lukisan pertempuran berjudul Prabu Bawasu Perang Tanding dengan Sang Supratika jelas digambarkan dengan gaya lukis klasik Bali. Pelukisnya adalah Wijnand Otto Jan Nieuwenkamp (1874-1950).

WOJ Nieuwenkamp adalah seorang ilustrator, seniman grafis, pelukis, kolektor, dan penulis serta penjelajah asal Amsterdam, Belanda. Dia kerap mengunjungi wilayah Asia, termasuk Bali. WOJ Nieuwenkamp berada di Bali ketika berlangsung ekspedisi militer Belanda di Bali tahun 1906 dan menyaksikan perang Puputan Klungkung tahun 1908.

Lukisan klasik Bali karya Nieuwenkamp itu berada di Museum Nyoman Gunarsa, Klungkung, Bali, dan turut dipamerkan dalam Festival Internasional Lukisan Klasik Bali Perdana, yang digelar di museum milik maestro asal Bali, Nyoman Gunarsa.

Sekitar seratus lukisan klasik Bali dihadirkan dalam pameran seni lukis klasik Bali, yang berlangsung mulai Sabtu (28/7) sampai 28 Oktober mendatang. Pameran lukisan klasik itu memajang koleksi Museum Nyoman Gunarsa (Klungkung), Museum Neka dan ARMA Museum serta Museum Puri Lukisan (Ubud, Gianyar), dan Museum Bali (Denpasar) serta Museum Pasifika (Nusa Dua, Badung).

Selain itu, juga menghadirkan koleksi dari Galeri Nasional Indonesia (Jakarta) dan Museum Sono Budoyo (Yogyakarta) serta koleksi ataupun reproduksi resmi dari beberapa museum luar negeri, di antaranya dari Museum Australia dan Museum Volkenkunde Leiden (Belanda).

Menariknya, festival seni lukis klasik Bali di Museum Nyoman Gunarsa itu juga memberikan tempat bagi seniman muda dari daerah Kamasan untuk menampilkan karya-karya mereka. Kamasan adalah sebuah desa di Klungkung yang disebut-sebut menjadi pusat seni lukis klasik di Bali.

Adapun lukisan karya WOJ Nieuwenkamp itu menjadi bukti adanya pengaruh corak Bali pada karya seniman dari luar Bali. Lukisan karya Nieuwenkamp sama temanya dengan lukisan klasik Bali karya Putu Hema (koleksi Museum Volkenkunde, Leiden), bahkan penokohannya pun sama, yakni Prabu Bawasu dan Sang Supratika serta gajah dan kura-kura. Yang membedakan kedua lukisan itu adalah gambar latarnya, media lukisnya, dan masa pembuatannya.

Seperti diungkapkan pengamat seni Jean Couteau saat pembukaan Festival Internasional Lukisan Klasik Bali Perdana di Museum Nyoman Gunarsa, Klungkung, Sabtu (28/7), kesenian Bali tidak hanya mendapat pengaruh dari Eropa, tetapi sebaliknya, Bali juga memberi pengaruh terhadap karya-karya seniman dari Eropa.

Warisan budaya dan sejarah

Seni gambar klasik Bali sudah berkembang sejak berabad-abad lampau. Sebuah tinggalan arkeologi di Bedulu, yang diperkirakan dibuat tahun 968 Masehi, menunjukkan pahatan bergambar padmasana.

Seni lukis klasik dan kesenian Bali lainnya berkembang pesat dan disebut-sebut memasuki zaman keemasannya pada abad XV ketika kepemimpinan Raja Dalem Waturenggong, yang pusat kerajaannya berada di Semarapura atau Klungkung.

Seni lukis klasik Bali tidak hanya berkembang di Klungkung, tetapi juga menyebar ke wilayah lain, di antaranya Denpasar, Badung, Tabanan, Bangli, Singaraja, dan Gianyar.

Ketika Bali dikunjungi pedagang China dan Eropa, lukisan klasik Bali menjadi komoditas seni yang dicari untuk dibeli dan dikoleksi. Lukisan klasik Bali itu dinilai unik dan bernilai seni serta mengandung filsafat kehidupan, etika, dan pengetahuan.

Kedatangan saudagar China ke Bali juga didokumentasikan seniman setempat ke dalam sebuah lukisan bergaya klasik Kamasan yang diperkirakan dibuat sekitar abad XV. Lukisan yang ditemukan di Gelgel, Klungkung, itu adalah koleksi Museum Nyoman Gunarsa.

”Mengamati lukisan klasik Bali seperti membaca cerita,” kata Nyoman Gunarsa dalam perbincangannya dengan Kompas, Sabtu (28/7).

Antropolog Bali, I Wayan Geriya, menyatakan, karya seni lukis klasik Bali dan Nusantara pada umumnya adalah refleksi nilai-nilai filosofis agama Hindu. Seni lukis klasik Bali memancarkan nilai-nilai keluhuran, estetika, etika, spiritualitas, dan narasi karakter bangsa.

Ide lukisan klasik Bali umumnya bersumber dari epos Mahabarata, Ramayana, atau kisah Tantri dan Pararaton. Lukisan klasik Bali gaya Kamasan dapat dilihat secara utuh di Taman Gili Kerta Gosa, Klungkung.

Dalam pameran di Museum Nyoman Gunarsa ditampilkan pula lukisan rerajahan, atau gambar dengan simbol mistis yang diyakini membawa kekuatan gaib atau sebagai penolak bala, seperti lukisan Rerajahan Penolak Bala karya Balian Mangku Arta dari Tembuku, Bangli, Bali.

Terkait dengan festival yang dimotori Nyoman Gunarsa itu, Jean Couteau menyatakan apresiasinya atas usaha Nyoman Gunarsa membawa pulang sejumlah lukisan klasik Bali dari beberapa museum dan kolektor di luar negeri ke asalnya, Bali. Menurut Couteau, pameran lukisan klasik Bali memberi kesempatan untuk mengenali dan mengetahui sisi Bali yang eksotik dan mistis, atau Bali yang diimpikan orang-orang mancanegara. ”Terima kasih Pak Nyoman Gunarsa,” kata Couteau dalam sambutannya pada pembukaan festival.

Festival seni lukis klasik Bali yang dilangsungkan di Museum Nyoman Gunarsa itu semakin memosisikan Bali sebagai pusat seni yang semarak dengan aktivitas berkesenian. Sebelumnya, Bali menjadi tuan rumah penyelenggaraan pameran lukisan bertaraf internasional, yakni Asian Watercolour Expression. Pameran lukisan cat air menampilkan karya-karya perupa dari 11 negara di Asia, digelar di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar, sejak Senin (23/7) sampai Selasa (31/7).

Pameran lukisan cat air di Bali tersebut merupakan penutup dari rangkaian pameran serupa yang diselenggarakan Indonesian Watercolour Society di empat tempat, mulai dari Bentara Budaya Jakarta (4-14 April), di Bentara Budaya Yogyakarta (22-30 Mei), Balai Soedjatmoko Solo (2-9 Juni), hingga Bentara Budaya Bali Gianyar.

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono
Categories: Travelling Indonesia | Tinggalkan komentar

Dilarang Berisik di Bukchon Village!

KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANALorong-lorong di Bukchon selalu tampak damai dan bersih sepanjang hari.

 

Putu Fajar Arcana

Di beberapa pintu rumah dan sudut gang Bukchon Hanok Village terdapat tulisan: ”Please be Quiet and Considerate!” Biasanya kemudian diimbuhi dengan ilustrasi seseorang sedang menutup bibirnya dengan telunjuk. Ini sebuah desa wisata atau ruang rapat?

Begitulah cara orang Korea ”memaksa” para wisatawan takluk pada peraturan yang berlaku di Bukchon Hanok Village, sebuah desa wisata yang terletak di tepian kota Seoul. Dua gadis asal Jepang dengan terbata-bata minta bantuan untuk mengambil gambar mereka yang ingin berpose di sebuah bukit kecil dengan latar rumah-rumah tradisional. Setengah berbisik salah satunya berkata, ”Tolong ambilkan gambar kami,” Kata-katanya hampir tak terdengar.

Kenapa harus berbisik?

”Banyak peringatan di sini,” kata mereka. Ssttt….

Sepanjang menyusuri beberapa lorong di Bukchon Hanok Village, terdapat kelompok-kelompok wisatawan berjalan perlahan siang itu. Beberapa di antara mereka terengah-engah mendaki bukit kecil di puncak musim panas akhir bulan Juli lalu. Korea, kata sahabat kami, seorang agen artis Edmond Kim, sedang berada pada titik terpanas. ”Suhu bisa mencapai 34-35 derajat. Ini panas sekali,” katanya. Ia memilih berteduh di satu gerbang rumah bersama V Federica, teman seperjalanan dari Indonesia. Mungkin mereka sedang mempercakapkan kemungkinan-kemungkinan kerja sama pembuatan film antara Korea dan Indonesia.

Bukchon tak lain merupakan satu desa tradisional, dalam pengertian desa yang secara arsitektural dipelihara sesuai aslinya. Ratusan rumah yang dibangun sejak berabad-abad silam ini tampak ”antik” di saat kota Seoul mengadopsi berbagai teknologi modern. ”Rumah-rumah di sini sudah ada sejak Dinasti Joseon, sebagian besar rumah-rumah para bangsawan,” tutur Kim Im-young, seorang pemandu wisata yang kebetulan sedang memandu puluhan wisatawan. Kim siap membantu siapa pun yang ingin mengetahui seputar Bukchon Hanok Village. Dinasti Joseon yang menjadi cikal-bakal berdirinya negara Korea modern memerintah pada periode Juli 1392-Oktober 1897.

Desa ini dikelilingi oleh monumen-monumen tradisional penting di Korea, seperti Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace, dan Jongmyo Shrine. Nama Bukchon sendiri berarti ”desa utara” karena terletak di bagian utara Streaming Cheonggye dan Jongno, kini diperkirakan telah berusia 600 tahun lebih. Sebagian besar hanok atau rumah-rumah tradisional di Bukchon masih berpenghuni dan sebagian lagi berubah menjadi guest house serta rumah-rumah teh untuk para pengunjung yang membutuhkan petualangan ke masa lalu.

Berlibur

Ini tempat untuk berlibur dan memperoleh hiburan mengapa harus ada peringatan dilarang berisik? Dengan tangkas Kim menjawab, ”Itu karena rumah-rumah di sini tetap dihuni oleh pemiliknya. Ini bukan rumah-rumah tua yang kosong dan karena itu berhantu,” kata Kim setengah berseloroh, tetapi dengan tekanan nada yang serius.

Anda bisa bayangkan bagaimana berwisata menyusuri satu lokasi beramai-ramai, kelihatan meriah, tetapi tanpa suara sama sekali. Bahkan, mantan wartawan yang kini bekerja di satu perusahaan film di Jakarta, Fadjar Budiman, menyebut perjalanan kami seperti film bisu. ”Kelihatan begitu banyak aktivitas, bercanda, tertawa-tawa, tetapi tanpa suara,” katanya. Di akhir Juli 2012 lalu, ia sedang menjalani puasa Ramadhan. Napasnya agak terengah-engah mendaki bukit kecil menuju puncak desa Bukchon. Beberapa kali ia harus diam sejenak untuk kemudian memaksakan diri agar tiba di puncak bukit. Dari sini kita lebih leluasa memandang hamparan desa Bukchon dengan latar belakang gedung-gedung menjulang di pusat kota Seoul.

Melintasi jalan-jalan kecil yang bersih di Bukchon seperti memasuki lorong-lorong masa lalu, tetapi bukan tumpukan puing yang bisu. Kita dengan leluasa menemukan galeri-galeri seni atau restoran dan mobil-mobil terselip di sela-sela rumah. Waktu sepanjang 600 tahun lebih seperti dibeber lewat atap-atap rumah yang unik. Ia didesain mampu melintasi empat musim sekaligus: terutama tidak kepanasan di musim panas dan tidak terlampau kedinginan di musim dingin.

Bukchon yang kita saksikan hari ini tentu saja desa dengan rumah-rumah tradisional yang telah disentuh oleh peradaban modern. Pemerintah Korea Selatan sadar benar bahwa ketradisionalan bukan semata dipelihara karena urusan pelestarian kebudayaan, melainkan lebih-lebih sebagai daya penarik wisatawan.

Bukchon didesain sebagai desa yang bisa menceritakan tentang dirinya sendiri, yang telah berhasil melintasi ratusan tahun untuk tetap berdiri bersanding dengan gedung-gedung pencakar langit yang modern. Ia kelihatan eksotik sebagai seorang gadis berlenggok di atas panggung kehidupan kini yang kian hiruk-pikuk. Dan ssttt… gadis itu sedang lewat! (Dua gadis Jepang secepat kilat menghilang ditelan gang-gang sempit dan berliku di Bukchon Hanok Village).

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
I Made Asdhiana
Categories: Travelling Tempat eksotik | Tinggalkan komentar

Dewan Adat Gorontalo Dideklarasikan

Kompas/Aris Prasetyo
Dua anggota Dewan Adat Gorontalo atau Duango adati lo Hulonthalo sedang berdiri membacakan deklarasi pembentukan Dewan Adat, Rabu (4/7/2012) di Kota Gorontalo.

GORONTALO, KOMPAS.com - Duango adati lo Hulonthalo atau Dewan Adat Gorontalo dideklarasikan di Rumah Adat Dulohupa, di Jalan Sudirman, Kota Gorontalo, Rabu (4/7/2012). Deklarasi tersebut dihadiri tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta staf ahli Gubernur Gorontalo dan kepala daerah se-Gorontalo.

Dewan adat tersebut beranggotakan 11 orang yang dianggap menguasai dan mengerti tentang adat-istiadat Gorontalo. Salah satu fungsi dewan adat ini adalah untuk meluruskan kembali adat istiadat di Gorontalo yang melenceng. Dewan ini sekaligus sebagai rujukan atau wadah berkonsultasi mengenai adat Gorontalo.

“Beberapa adat di Gorontalo yang mulai melenceng atau hilang antara lain adat dalam upacara perkawinan atau penobatan kepala daerah. Contohnya, ada warga yang berpakaian putih atau biru pada acara perkawinan. Padahal menurut adat Gorontalo, warna putih atau biru tersebut dipakai untuk menghadiri upacara pemakanan,” ujar Sekretaris Dewan Adat Gorontalo Alim S Niode.

Dalam sambutan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang dibacakan staf ahli Gubernur Gorontalo bidang pemerintahan, Ramis Luwiti, Gubernur Gorontalo menyatakan Pemerintah Provinsi Gorontalo mendukung penuh deklarasi Dewan Adat Gorontalo.

Gubernur berharap ada jalinan kerja sama antara pemerintah daerah dan tokoh adat se-Gorontalo dengan terbentukan Dewan Adat tersebut. “Mari kita duduk bersama menyatukan paham untuk memperlancar pembangunan di Gorontalo. Adat yang sudah ada kita pegang teguh, dan jangan direkayasa,” demikian dibacakan Ramis.

 

 

Editor :
Sonya Hellen Sinombor
Categories: Travelling rumah adat | Tinggalkan komentar

Jumlah Wisatawan Nusantara Naik 3,5 Persen

img

Pemandangan cantik selama trekking di Pulau Rinca (Shafa/detikTravel)

Jakarta – Rupanya, semakin banyak orang Indonesia yang melakukan travelling untuk menikmati negerinya sendiri. Jumlah wisatawan nusantara dalam semester pertama 2012 meningkat 3,5 persen.
Dari data Biro Pusat Statistik (BPS) dan Pusat Data Informasi (Pusdatin) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, perjalanan wisnus pada semester pertama 2012 meningkat 3,5 persen dibanding semester pertama tahun 2011 yang mencapai 236.752 juta perjalanan. Hal itu terlihat dengan kenaikan jumlah wisatawan ke beberapa tempat wisata seperti Candi Borobudur dan Prambanan, Pulau Komodo, Wakatobi, dan munculnya objek wisata baru seperti Trans Studio Bandung.

Dikatakan Menparekraf, Mari Elka Pangestu, perjalanan oleh wisnus menjadi andalan pariwisata nasional. Penting bagi wisatawan domestik atau wisatawan nusantara (wisnus) untuk mengetahui potensi negaranya, sekaligus meningkatkan perekonomian di tempat bersangkutan.

“Hal ini terkait meningkatnya pendapatan, jumlah kelas menengah, perbaikan infrastruktur dan meningkatnya budget airlines,” tutur Mari saat jumpa pers di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2012).

Alam, budaya dan tradisi Indonesia seolah tak pernah habis untuk dijelajahi. Mari mengimbau turis domestik untuk mengeksplorasi negeri sendiri.

“Dulu, Pulau Komodo mayoritas didatangi wisatawan mancanegara. Sekarang wisnus sudah lumayan banyak yang ke sana,” tambah Mari.

Pengeluaran wisnus dinilai bisa menggerakkan perekonomian daerah, karena mayoritas perjalanan turis domestik ke daerah-daerah dengan membelanjakan uangnya untuk transportasi, akomodasi, makan-minum, serta membeli cinderamata dan oleh-oleh.

Banyak traveler yang bercita-cita ingin menjelajahi Kepulauan Indonesia. Tak aneh, karena negeri ini punya segudang destinasi yang akan membawa pengalaman baru bagi tiap pejalan. Dari Sabang sampai Merauke, beragam hal baru akan memperkaya khasanah pengetahuan Anda.

Categories: Travelling Indonesia | Tinggalkan komentar

TRAVELLING RUMAH ADAT DULOHUPA

Masyarakat Gorontalo memiliki rumah adat yang disebut Dulohupa. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarah kerabat kerajaan pada masa lampau. Dulohupa merupakan rumah panggung yang terbuat dari papan dengan bentuk atap yang artistik khas daerah Gorontalo dan pilar-pilar kayu sebagi hiasannya. Kedua tangganya yang terletak di sisi kiri dan kanan merupakan gambaran tangga adat yang disebut tolitihu. Pada bagian belakang ada anjungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga. Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan. Berfungsi juga sebagai balai musyawarah adat. Nama Dulohupa sendiri merupakan bahasa daerah Gorontalo yang berarti mufakat untuk memprogramkan rencana atau balai musyawarah dari kerabat kerjaaan.
Bentuk rumah asli masyarakat Gorontalo tempo dulu ini, tidak banyak dijumpai. Sekarang ini rumah asli Gorontalo tersebut hanya bisa dijumpai di beberapa tempat. Seperti di seputaran jalan Pulau Kalengkoan, jalan Agus Salim, Kelurahan Huangobotu, Kelurahan Biawau serta di jl Trans Limboto – Isimu. Dapat Anda  jumpai juga di Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat Dulohupa atau yang dikenal dengan nama Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo di tempat ini memiliki luas tanah kurang lebih 500 meter persegi. Dilengkapi dengan taman bunga serta bangunan tempat penjualan souvenir dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama talanggeda. Rumah adat ini sering digunakan sebagai lokasi pagelaran budaya serta pertunjukan seni di Gorontalo. Di dalamnya terdapat berbagai ruang khusus dengan fungsi yang berbeda. Gaya arsitekturnya menunjukkan nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo yang bernuansa islami.

Categories: Travelling rumah adat | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.